Friday, October 11, 2019

Pengaruh BKBI Terhadap Peningkatan Akhlakul Karima Siswa (BAB I)

Pengaruh BKBI Terhadap Peningkatan Akhlakul Karima Siswa
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pengaruh globalisasi sudah terasa dalam beberapa hal, terutama yang berkaitan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta media informasi dan komunikasi masa. Hal ini semakin menunjukkan bahwa persaingan antar bangsa semakin terbuka dan semakin bebas, dan bagi bangsa yang tidak siap akan tertinggal, bahkan akan menjadi korban.
Namun tidak menutup kemungkinan, dunia teknologi saat ini begitu banyak membawa dampak negatif bagi siswa siswi dari mulai malas belajar, barang-barang yang seharusnya digunakan untuk bernilai positif menjadi negatif, selain itu juga dunia teknologi bisa membuat akhlâk siswa siswi menjadi rusak karena kesalahan pemakaian dan salah menggunakannya, sehingga menimbulkan perilaku asusila seperti tawuran antar pelajar.[1] Namun untuk itu, tetap hanya ada dua pilihan dalam pemakaian teknologi menjadi pemain atau korban, dan apabila dikaitkan dengan dunia remaja saat ini, sesuai dengan perkembangannya berada pada masa remaja.  Hal itu antara lain karena remaja merasa bahwa orang dewasa tidak dapat memahami mereka, keadaan ini sering menjadikan remaja sebagai satu kelompok yang eksklusif karena hanya sesama merekalah yang dapat saling memahami.
Remaja merupakan masa yang penuh problema, pada saat ini tidak sedikit remaja yang mengalami kegoncangan yang menyebabkan munculnya emosi yang belum stabil sehingga mudah melakukakan pelanggaran terhadap norma-norma spiritual.[2]
Melalui sistem adaptasi remaja lebih bisa mengenal lingkungannya, dan tidak sedikit saat ini remaja di dalam kesehariannya belum bisa menata pembicaraannya dengan baik, sehingga sering berbicara dengan nada yang keras dan tidak memandang lagi siapa yang menjadi lawan berbicaraanya.
Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penerapan program bimbingan dan konseling di sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum ( perudang-udangan ) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah adanya kesadaran atau komitmen para pendidik, khususnya guru bimbingan dan konseling atau konselor untuk memfasilitasi perserta didik atau siswa agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).
Siswa ataupun siswi  adalah seseorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (becoming),  yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian.
Untuk mencapai kematangan tersebut, siswa-siswi memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya, disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa  proses perkembangan siswa-siswi  tidak selalu berlangsung secara mulus atau steril dari masalah.
Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut, perkembangan siswa-siswi tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial.
Selain itu juga peran pokok konselor dalam melaksanakan layanan bimbingan kelompok berbasis Islam kepada perserta didik, Assosiasi Konselor Sekolah Amerika (ASCA) menentukan peran konselor sekolah sebagai seorang pendidik profesional bersertifikat yang membantu para perserta didik, guru dan para ahli administrasi. Seseorang tidak dapat mencapai kematangan untuk memahami diri dan orang lain, wawasan moral, dan kemampuan berpikir secara terpadu sehingga dia  dapat menyelesaikan masa pedidikan umum secara formal.[3]
Bimbingan kelompok dilakukan untuk membantu siswa (klien) memecahkan masalah melalui kegiatan kelompok. Masalah yang dipecahkan bersifat kelompok, yaitu yang disarankan bersama oleh kelompok (beberapa orang siswa) atau bersifat individual atau perorangan, yaitu masalah yang disarankan oleh individu (seorang siswa) sebagai anggota kelompok, penyelenggaraan bimbingan kelompok antara lain dimaksudkan untuk mengatasi masalah bersama atau individu yang menghadapi masalah dengan menempatkanya dalam kehidupan kelompok.[4]
Mengingat sebagian besar siswa di Indonesia beragama Islam, maka perlu adanya bimbingan yang berlandaskan ajaran Islam. Ajaran Islam tidak bisa lepas terutama jika guru bimbingan dan konseling di sekolah beragama Islam, dan siswa pun beragama Islam. Kondisi di barat praktik agama justru membantu mempercepat penyelesaian masalah, peran orang yang ahli dalam agama dapat membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat muslim dengan pendekatan agama. Pendekatan agama jauh lebih kompleks dan lebih mendalam karena melibatkan nilai iman (tauhid), sehingga individu menyadari posisinya sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi.
Bimbingan kelompok berbasis Islam yang dikembangkan dalam penelitian ini disusun dengan berdasarkan pada dasar yang kokoh yaitu merujuk pada Al-qur’an dan hadits Nabi SAW., sehingga memiliki spesifikasi yang berbeda dari bimbingan kelompok yang sudah ada di sekolah. Bimbingan kelompok berbasis Islam yang terdiri atas 10 aspek yaitu: pengertian bimbingan kelompok berbasis Islami, peran konselor, fungsi konselor, kualifikasi konselor, prosedur kerja bimbingan kelompok berbasis Islami,  anggota kelompok, sifat topik, suasana interaksi, prinsip pelaksanaan, tahap-tahap pelaksanaan bimbingan kelompok, dan komponen model yang terakhir adalah, Monitoring, evaluasi dan tindak lanjut.[5]
Selain itu Bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah siswa sangatlah dibutuhkan dalam keseharian siswa, untuk melanjutkan dan mejalankan kehidupan yang lebih efektif lagi.
MA Negeri 1 Lubuklinggau merupakan lembaga pendidikan menengah atas bercirikan Islam yang memiliki kurikulum sama dengan kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan kelebihan di bidang keagamaan (Islam). Jika  di SMA mata pelajaran Pendidikan Agama hanya 2 jam pelajaran, maka di Madrasah Aliyah ada penambahan jam pelajaran dan pembagian Materi Pelajaran Agama (Islam) yang lebih spesifik, yaitu : Al-Qur’an dan Hadits, Fiqih, Aqidah Akhlaq, Bahasa Arab, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Dengan harapan lulusan MA Negeri 1 Lubuklinggau setara dengan tamatan SMA sehingga dapat melanjutkan ke perguruan tinggi (negeri/swasta) dan memiliki kelebihan di bidang agama (Islam) sehingga siap menjadi penggerak kehidupan beragama di masyarakat. [6]
MA Negeri 1 yang berlatarkan Islam, sangatlah memperhatikan nilai-nilai keagamaan seperti kesopanan seseorang siswa-siswi dari aspek fisik maupun tutur sapa, tingkahlaku, dan lain-lainnya. Siswa-siswa kelas X itu sangatlah rentan akan norma-norma spiritual tersebut, hal ini dikarenakan di usia mereka ini mereka sudah cukup banyak melihat dan mengkomsumsi pengaruh dari luar, sehingga hal tersebut di adopsi dan di implementasikan  di lingkungan sekolah. Apa lagi jika di lihat dari aspek tutur katanya memang tidak semuanya yang berbicara dengan nada keras namun hal ini yang menjadi salah satu tugas dan tangung jawab dari seseorang konselor untuk bisa menyikapi sikap tersebut dan tentunya siswa-siswi tersebut bisa lebih baik lagi.
Seorang konselor atau guru BK harus bisa menyikapi hal ini dengan mengunakan salah satu dari sepuluh layanan yang mana dalam hal ini mengunakan bimbingan kelompok berbasis Islam,  agar siswa bisa mengarahkan dirinya dengan baik untuk mencapai kearah akhlâkul karimah, seseorang siswa-siswi yang belum bisa unutuk mencapai akhlâkul karimah  ini, tidak hanya ada di MA Negeri 1 namun hampir di setiap lembaga pendidikan.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul proposal :  Pengaruh Bimbingan Kelompok Berbasis Islam Dalam Pembentukan Akhlâkul Karimah Pada Siswa Kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau.                                                                                                             
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar  belakang di atas dapat dirumuskan pokok-pokok masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana penerapan bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau ?
2.      Bagaimana bentuk akhlâk siswa setelah penerapan bimbingan kelompok berbasis Islam pada siswa kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau ?
3.    Seberapa besarkah pengaruh bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau?
C.      Tujuan Penelitian
Ada beberapa hal yang ingin dicapai oleh penulis dalam penyusunan proposal  ini, di antaranya :
1.    Untuk mengetahui bagaimana penerapan bimbingan konseling berbasi Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa kelas X MAN 1 (Model) kota Lubuklinggau
2.    Untuk mengetahui bagaimana bentuk akhlâk siswa setelah penerapan bimbingan kelompok berbasis Islam pada siswa kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau
3.    Mendapatkan informasi seberapa besar pengaruh bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau
D.    Hipotesis
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
Ha :  Ada pengaruh bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa kelas X MAN I Kota Lubuklinggau
Ho:        Tidak ada  pengaruh bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa kelas X MAN I Kota Lubuklinggau

E.       Manfaat Penelitian
            Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Bagi Sekolah dan Siswa-siswi
                 Hasil yang di peroleh dari penelitian ini diharapkan membawak dampak positif bagi sekolah dan juga siswa-siswi, dan bisa memberiikan perubahan kepada akhlâk siswa-siswi serta meberikan kesadaran kepada siswa-siswi  bahwa sesunguhnya akhlâkul karimah sangatlah dibutuhkan oleh setiap siswa-siswi.
2. Bagi Peneliti
            Hasil yang diperoleh dapat mengetahui kondisi sebenarnya tentang pengaruh Bimbingan Kelompok Berbasis Islam Dalam Pembentukan Akhlâkul Karimah Pada siswa kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau dan mendapatkan ilmu dan wawasan baru.
3.      Bagi Keluarga
Hasil dari penelitian ini diharapkan memberiikan dampak positif bagi keluarga sang  klien, dari berubahan yang di alami oleh sang klien.
F.       Tinjauan Pustaka
Penelitian pengaruh bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan Akhlâkul Karimah siswa di MAN 1 Kota Lubuklinggau ini merupakan salah satu masalah yang cukup hangat yang tidak dapat begitu saja habis setelah dikupas. Ada beberapa literature yang peneliti jadikan pedoman serta perbandingan dalam melakukan penelitian ini.
Penelitian pertama, Yusuf Hasan Baharudin, Konseling Kelompok Berbasis Nilai-nilai Islam Untuk Meningkatkan Kejujuran Siswa. Dalam penelitian tersebut Yusuf Hasan Baharudin menyibulkan, Persaingan dalam segala bidang menjadi pola hidup yang tidak dapat dihindarkan pada masa kini, kejujuran kemudian menjadi barang antik yang sulit didapatkan. Setiap hari kita mendengar dan membaca berita tentang penipuan, perampokan, pencurian, penggelapan, pemalsuan, korupsi, manipulasi dan aksi-aksi lain yang bersumber dari tidak adanya kejujuran seseorang terhadap dirinya sendiri. Sebab jika orang mau jujur terhadap didri sendiri, bersedia mendengarkan suara hati nurani, pasti akan mengatakan bahwa semua tindakan diatas bertentangan dengan panggilan hati nurani yang tidak perna membenarkan aksi-aksi tercela dan terkutuk itu. Karena suara hati nurani adalah hidayah Allah yang dikaruniakan kepada manusia dan menyatu dengannya. Berkurangnya atau hilangnya nilai kejujuran akan menimbulkan krisis kepercayaan yang pada gilirannya melahirkan krisis multi dimensi, yang dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan, baik pada tingkat kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun sampai pada tingkat kehidupan berbangsa dan bernegara, jika manusia sudah meninggalkan apa yang disebut dengan “kejujuran”.
Salah satu anugerah terbaik yang diberikan Islam kepada umat manusia adalah ajaran-ajaran dan konsep-konsep tentang akhlâk mulia dan perilaku yang baik. Islam melalui wahyu memberiikan penguatan terhadap nilai-nilai luhur yang dimiliki manusia sebagai fithrah, agar manusia senantiasa berada dalam kesadaran yang benar. Kesadaran yang benar tersebut akan menimbulkan perilaku yang benar, dan selanjutnya akan membimbing manusia untuk memiliki budaya perilaku (moral atau akhlâk) yang benar. Penelitian dilakukan untuk mengukur efektifitas penggunaan nilai-nilai keislaman sebagai materi dalam layanan konseling kelompok di sekolah untuk meningkatkan kejujuran siswa SMP-IT Masjid Syuhada Yogyakarta.
Metode yang digunakan adalah eksperimen one group pre and posttest design, melibatkan 8 siswa SMP-IT Masjid Syuhada. Penentuan subjek dipilih dari skala kejujuran terendah dan berdasarkan diskusi peneliti dengan guru BK dan wali kelas. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala kejujuran siswa ( ri= 0,367 –  0,729 α= 0,810 ), angket, observasi, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan dalam menggunakan uji wilcoxon signed ranks test. Hasil uji wilcoxon signed ranks test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor tingkat kejujuran subjek penelitian atau siswa antara sebelum dengan sesudah pemberian layanan konseling kelompok berbasis nilai-nilai Islam (manipulasi), dengan Z = -2,232 dan p-value = 0,026 (p-values < 0,050. Nuansa praktis nilai-nilai Islam tersebut memudahkan subjek penelitian dalam memahami dan mempraktekkan ajaran tersebut dalam kehidupan belajar, pergaulan, hubungan dengan orang tua dan umumnya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini berkesimpulan bahwa konseling kelompok berbasis nilai-nilai Islam dapat meningkatkan kejujuran siswa, sehingga dapat digunakan sebagai pengembangan layanan konseling di sekolah terhadap siswa yang mengalami tingkat kejujuran rendah.[7]
Penelitian kedua, yang dilakukan oleh Sardjuki, Pengaruh Keteladanan Orang Tua dan Guru Terhadap Pembentukan Akhlâk Pada Siswa Kelas VIII SMP PGRI. Dalam penelitian tersebut Sardjuki menyimpulkan, Keteladanan orang tua, guru pada siswa. Penelitian ini merupakan upaya penyerasian hubungan dan korelasi antara pemberian motivasi dari orang tua dan guru terhadap peningkatan pengembangan akhlâk siswa baik di rumah maupun di sekolah. Berdasarkan hasil temuan pengamatan dan angket dapat disimpulkan,bahwa peranan dan motivasi orang dapat mempengaruhi peningkatan akhlâk bagi anak dirumah. Hasil temuan dan pengamatan guru BK dapat disimpulkan bahwa peranan dan motivasi guru dapat meningkatkan akhlâk siswa disekolah. Sikap dan perilaku memiliki hubungan atau korelasi dengan peningkatan akhlâk anak dirumah dan di sekolah. Rasulullah SAW telah mengajari kita akan makna hidup yang sebenarnya serta membawa kita menuju jalan hikmah yang diridhoi Allah SWT.
Beliau memberiikan ilmu yang belum kita ketahui dan mewariskan Islam sebagai agama yang patut diagungkan. Beliau pulalah yang membuka tirai hati dengan keikhlasan dan kelembutan tutur sapa-Nya. Rasululah merupakan manusia sempurna yang tidak mempunyai cacat sedikitpun. Semua apa yang beliau aplikasikan selalu sesuai dengan Iradat Allah SWT, sehingga julukan Al-Amien yang beliau sandang tidak patut untuk dipermasalahkan. Gerak gerik Rasulullah adalah hikmah dan tutur sapanya adalah nasehat. Kita selaku umatnya herus menerjemahkan apa yang telah telah beliau lakukan sekaligus mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Begitupun dalam berkeluarga, kehidupan yang penuh cinta dan keharmonisan yang dihiasi kasih sayang bisa beliau gapai. Hal ini membuktikan bahwa beliau berhasil membina dan memimpin rumah tangga yang beliau hadapi. Beliau selalu mengedepankan keadilan dan kejujuran, transformasi ilmu dari Allah SWT dikerjakan dengan sebenarnya. Ini bukan karena beliau menjadi kekasih Allah SWT, tetapi lebih menginginkan apa yang beliau praktekkan nantinya bisa dicontoh oleh umatnya.[8]
Penelitian ketiga, yang dilakukan Anita Dwi Astuti, Model Layanan BK Kelompok Teknik Permainan (Games) Untuk Meningkatkan Komunikasi Interpersonal Siswa. Dalam penelitian tersebut Anita Dwi Astuti menyimpulkan, Komunikasi adalah peristiwa sosial, peristiwa yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan orang lain. Setiap melakukan komunikasi bukan hanya menyampaikan isi pesan tetapi juga menentukan tingkat hubungan interpersonal.
Berbagai aneka masalah dalam komunikasi muncul bukan karena perasaan yang dialami oleh seseorang, melainkan seseorang tersebut gagal mengkomunikasikannya secara efektif. Kesulitan mengkomunikasikan perasaan secara efektif, dapat dialami oleh
Berdasarkan hasil angket need assesment yang diberikan kepada 50 siswa secara acak dari 95 siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah I Melati Sleman Yogyakarta, diperoleh hasil bahwa sebanyak 3 siswa (6%) memiliki kemampuan berkomunikasi tinggi, sebanyak 16 siswa (32%) memiliki kemampuan berkomunikasi sedang dan sisanya sebanyak 31 siswa (62%) memiliki kemampuan berkomunikasi cukup. Berdasarkan uraian diatas menunjukkan masih terdapat siswa yang memiliki keterampilan komunikasi interpersonal cukup yang ditandai merasa gugup apabila berbicara dengan orang yang belum dikenal, merasa gemetaran bila berhadapan dengan orang banyak, tidak berani mengemukakan pendapat di depan umum, dan takut mendapatkan kritikan.
Hasil studi pendahuluan pada siswa VIII SMP Muhamadiyah I Melati Yogyakarta ditemukan sebanyak 62% siswa memiliki keteramlilan komunikasi interpersonal cukup. Sebagai upaya meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa. Guru BK memerlukan adanya model layanan bimbingan kelompok teknik pemainan (games). Penelitian ini betujuan untuk  mengembangkan model layanan bimbingan kelompok teknik permainan (games) yang efektif untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa yang sesuai dengan kebutuhan dan visibilitas di SMP Muhammadiyah I Melati Sleman Yogyakarta. Model peniliti ini adalah research and developmert dengan pendekatan mixed kualitatif dan kuantitatif. Hasil uji coba terbatas dengan Independent sample T-Test dihitung perhitungan nilai sebesar 4,734 dan mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,00 (p<0,05) sehingga dinyatakan ada pengaruh yang signifikan (efektif) dari pengunaan teknik permainan (games) dalam meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa.[9]
Dari beberapa tinjuan perpustakaan diatas, belum ada yang sama dengan penelitian yang peneliti teliti oleh karena itu, peneliti akan meneliti mengenai, ‘’Pengaruh Bimbimgan Kelompok Berbasis Islam Dalam Pembentukan Akhlâkul Karimah Pada siswa Kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau’’
G.      Kerangka Teoritik
Pendidikan pada hakikatnya merupakan pembentukan kepribadian manusia, memanusiakan manusia dalam arti yang sesungguhnya. Karena itu, pendidikan mestilah mengenai pengembangan seluruh potensi manusia baik jasmani maupun rohani. Pendidikan memiliki potensi untuk membentuk karakter pribadi seseorang. Karena pada dasarnya, perilaku seseorang merupakan produk dari akal pikiran dan pengetahuan-nya. Seseorang akan melakukan suatu perbuatan berdasarkan apa yang diketahuinya, atau paling tidak akan meniru-niru atau melakukan sesuatu yang menyerupai apa yang diperolehnya dengan inderanya. Dengan demikian, pendidikan dapat mencetak seseorang menjadi sholeh secara individu dan sholeh secara sosial, bersikap terbuka dan menerima keragaman realitas budaya, etnis, dan keragaman pemahaman agama dan pemahaman mengenai sifat dan juga sikap yang sopan . Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah  :
7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ
artinya “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung ‘’     ( QS. Al-Qalam [68]: 4 ).[10]

Disamping itu, pendidikan juga dapat mencetak pribadi-pribadi yang ekslusif – tertutup dan tidak menerima keragaman realitas, mengklaim kebenaran hanya pada apa yang dianutnya atau kelompoknya, sehingga tidak jarang konflik dan tindak kekerasan terjadi.
Guru Bimbingan Konseling (BK), umumnya sangatlah berperan penting  untuk mendidik siswa-siswi agar memiliki akhlâk dan kepribadian yang baik dan dapat membawa nama harum madrasah pada bidang akademik, maupun non akademik. Kegiatan ini harus mampu memberiikan hal-hal positif kepada peserta didik, membantu meringankan beban, menemukan alternatif pemecahan masalah, mendorong semangat dan memberiikan penguatan serta ketenangan kepada peserta didik secara tepat. Maka pelayanan bimbingannya menyentuh ranah afektif yaitu membantu peserta didik untuk mengembangkan potensi, tanggung jawab, hubungan interpersonal, motivasi, komitmen, daya juang serta pengembangan karir serta peningkatan siswa atau perserta didik dalam segi akhlâk atau nilai keagamaan.[11]
Profesi bimbingan konseling merupakan keahlian pelayanan yang bersifat psikopedagogis dalam bingkai budaya artinya bahwa pelayanan yang diberikan harus mengacu pada upaya pendidikan dengan memperhatikan aspek psikologis dan unsur budaya yang menyertainya. Tentu saja aspek budaya disesuaikan dengan kondisi daerah sekolah tersebut. Kebiasaan yang terjadi pada sekolah-sekolah di daerah tidak bisa dibuat pola yang sama dengan sekolah yang ada di kota.
Misalnya dari sisi kebiasaan, sopan santun, ataupun kemampuannya. Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun Undang-undang tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru bimbingan dan konseling ini disebut sebagai konselor pendidikan. Dalam menjalankan tugasnya seseorang konselor dapat melakukan tugasnya dengan beberapa alternativ yang telah ada seperti  mencakup beberapa layanan antara lain layanan orientasi (pengenalan lingkungan sekolah yang baru), layanan informasi (berbagai informasi untuk menambah wawasan dalam merencanakan masa depan), layanan penempatan (membantu siswa menyalurkan bakat, minat atau kelanjutan studi yang dipilih melalui hasil belajar serta hasil psikotes sebagai bahan pertimbangan), layanan penguasaan konten (membantu siswa mengembangkan diri kerkaitan dengan sikap dan kebiasaan belajar, materi belajar yang cocok dengan kemampuannya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, layanan konseling individu/kelompok (membantu mengatasi masalah baik yang disadari maupun tidak disadari oleh siswa secara individu atau kelompok) serta layanan bimbingan kelompok. Meskipun Pelaksanaan layanan konseling di sekolah sangat rendah namun hal ini  harus ditingkatkan dan dikembangkan seoptimal mungkin.[12]
Layanan bimbingan kelompok berbasis Islam ini membentuk Konsep diri positif, akan mengembangkan sifat kepercayaan diri, harga diri dan kemampuan untuk melihat dirinya secara realistis, sehingga akan menumbuhkan penyesuaian sosial yang  baik.[13]
Dalam bimbingan kelompok berbasis Islam ini, langkah-langkah yang dilakukan diantaranya yakni, membaca do’a sebelum memulai kegiatan, dan dalam menyelesaikan masalah selalu mengunakan atau menyelipkan dalil-dalil serta hadist yang bisa mengarahkan kehidupan siswa untuk lebih baik lagi.
Selain itu juga, melalui bimbingan kelompok seseorang guru bimbingan konseling bertugas memperhatikan pembulatan dan perkembangan (perkembangan sikap dan prilaku) siswa serta mengetahui perbedaan pada siswa, hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah No 28 dan 29 tahun 1990, disebutkan bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadinya, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Dalam efektifitas pelaksanaan bimbingan kelompok sering masih belum jelas, hal ini terbukti dengan adanya siswa yang belum mempunyai kesadaran untuk memanfaatkan fungsi bimbingan kelompok. Namun, disisi lain ada juga siswa yang telah menyadari fungsi bimbingan kelompok dan mau memanfaatkannya. Serta sikap siswa yang mau berkonsultasi didorong adannya kesedian membicarakan suatu masalah dengan harapan solusi yang memberiikan kenyamanan bagi dirinya. Motivasi siswa untuk melakukan bimbingan sangat dipengaruhi oleh perpesinya, siswa yang mempunyai persepsi positif tidak akan segan untuk berkonsultasi mau mendengarkan dan menerima saran dari konselor. Apabila siswa telah mengetahui dengan jelas bahwa sebenarnya yang menjadi insan yang berguna dan sempurna.[14]
Di dalam penelitian pengaruh bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau ini peneliti mengunakan teori  Gestalt yang dikemukakan oleh seseorang ilmuan Frederick Perls, yang mana teori ini ‘’ memandang bahwa manusia itu dapat berubah, salah satunya yakni dengan prilaku yang diarahkan, percaya dengan diri sendiri serta bertangung jawab.’’[15]
Senada dengan yang diungkapkan oleh Hays dan  Erford, terapi Gestalt membantu klien untuk mengonstruksikan makna dan maksud melalui mempertinggi kesadaran dan persepsi mereka tentang apa yang sedang terjadi saat ini. Perubahan dianggap sebagai suatu keadaan yang kekal, dan konselor yang mengunakan pendekatan Gestalt sering kali berusaha untuk mendeteksi tantangan-tantangan lingkungan, interpersonal, dan intrapersonal dan penghalang-penghalang untuk perubahan, sehingga membantu klien untuk beradaptasi dan mengakomodasi lingkungan internal dan eksternal. Konselor membantu klien menyelesikan urusan yang belum selesai yang mencegah kontak dan adaptasi yang sehat dengan lingkungan, dan memenuhi kebutuhan melalui pengembangan batas-batas relasional yang jelas dan fleksibel. Salah satu keunggulan pendekatan Gestalt adalah pentingnya hubungan terapeutik dan filosofi yang mendasari bahwa klien seharusnya didekati secara terbuka dan tampa prakonsepsi untuk membantu memahami persepsi-persepsi saat ini.[16]
Dan dalam hal ini teori Gestalt  sangatlah tepat digunakan dalam penelitian ini karena pada dasarnya seseorang siswa-siswi itu mempunyai kepercayaan diri sendiri dan mempunyai tangung jawab yang kuat serta mengikuti dan tidak menutup kemungkinan siswa juga akan medengarkan dan mengikuti arahan dari seseorang guru atau konselor untuk menjadi siswa yang lebih baik dan manusia yang seutuhnya.


Bertanggung jawab
Percaya dengan diri sendri

Bagan Teori Gestal
H.      Sistematika Penulisan
Pembahasan dalam skripsi ini tersusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I                  Merupakan pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teoritik, dan sistematika pembahasan.
BAB II                Adalah landasan teori, yang terdiri dari kajian tentang pengertian pendidikan, Islam, pendidikan Islam, bimbingan konseling, bimbingan kelompok, bimbingan kelompok berbasis Islam, dan akhlâkul karimah.
BAB III               Metode penelitian berisi tentang,  jenis penelitian, populasi dan sampel, tempat dan waktu penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data
BAB IV               Berisi tentang gambaran umum, subyek penelitian, serta hasil dan pembahasan hasil penelitian
BAB V                Adalah bab penutup yang meliputi: kesimpulan penulis dari hasil penelitian dan saran yang dipandang perlu.         
















No comments:

Post a Comment