BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengaruh globalisasi sudah terasa dalam beberapa hal, terutama yang
berkaitan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta media
informasi dan komunikasi masa. Hal ini semakin menunjukkan bahwa persaingan
antar bangsa semakin terbuka dan semakin bebas, dan bagi bangsa yang tidak siap
akan tertinggal, bahkan akan menjadi korban.
Namun tidak menutup kemungkinan, dunia teknologi saat ini begitu
banyak membawa dampak negatif bagi siswa siswi dari mulai malas belajar,
barang-barang yang seharusnya digunakan untuk bernilai positif menjadi negatif,
selain itu juga dunia teknologi bisa membuat akhlâk siswa siswi menjadi rusak
karena kesalahan pemakaian dan salah menggunakannya, sehingga menimbulkan
perilaku asusila seperti tawuran antar pelajar.[1]
Namun untuk itu, tetap hanya ada dua pilihan dalam pemakaian teknologi menjadi
pemain atau korban, dan apabila
dikaitkan dengan dunia remaja saat ini, sesuai dengan perkembangannya berada
pada masa remaja. Hal itu antara lain
karena remaja merasa bahwa orang dewasa tidak dapat memahami mereka, keadaan
ini sering menjadikan remaja sebagai satu kelompok yang eksklusif karena hanya
sesama merekalah yang dapat saling memahami.
Remaja merupakan masa yang penuh
problema, pada saat ini tidak sedikit remaja yang mengalami kegoncangan yang
menyebabkan munculnya emosi yang belum stabil sehingga mudah melakukakan
pelanggaran terhadap norma-norma spiritual.[2]
Melalui sistem adaptasi remaja
lebih bisa mengenal lingkungannya, dan tidak sedikit saat ini remaja di dalam
kesehariannya belum bisa menata pembicaraannya dengan baik, sehingga sering
berbicara dengan nada yang keras dan tidak memandang lagi siapa yang menjadi
lawan berbicaraanya.
Dasar pertimbangan atau pemikiran
tentang penerapan program bimbingan dan konseling di sekolah, bukan semata-mata
terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum ( perudang-udangan ) atau
ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah adanya kesadaran atau
komitmen para pendidik, khususnya guru bimbingan dan konseling atau konselor
untuk memfasilitasi perserta didik atau siswa agar mampu mengembangkan potensi
dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik,
emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).
Siswa ataupun siswi adalah seseorang individu yang sedang berada
dalam proses berkembang atau menjadi (becoming),
yaitu berkembang ke arah kematangan
atau kemandirian.
Untuk mencapai kematangan
tersebut, siswa-siswi memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki
pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam
menentukan arah kehidupannya, disamping itu terdapat suatu keniscayaan
bahwa proses perkembangan siswa-siswi tidak selalu berlangsung secara mulus atau
steril dari masalah.
Dengan kata lain, proses
perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah
dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut, perkembangan siswa-siswi
tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial.
Selain itu juga peran pokok
konselor dalam melaksanakan layanan bimbingan kelompok berbasis Islam kepada
perserta didik, Assosiasi Konselor Sekolah Amerika (ASCA) menentukan peran
konselor sekolah sebagai seorang pendidik profesional bersertifikat yang
membantu para perserta didik, guru dan para ahli administrasi. Seseorang tidak
dapat mencapai kematangan untuk memahami diri dan orang lain, wawasan moral,
dan kemampuan berpikir secara terpadu sehingga dia dapat menyelesaikan masa pedidikan umum secara
formal.[3]
Bimbingan kelompok dilakukan untuk membantu siswa (klien) memecahkan
masalah melalui kegiatan kelompok.
Masalah yang dipecahkan bersifat kelompok, yaitu yang disarankan bersama oleh
kelompok (beberapa orang siswa) atau bersifat individual atau perorangan, yaitu
masalah yang disarankan oleh individu (seorang siswa) sebagai anggota kelompok,
penyelenggaraan bimbingan kelompok antara lain dimaksudkan untuk mengatasi
masalah bersama atau individu yang menghadapi masalah dengan menempatkanya dalam
kehidupan kelompok.[4]
Mengingat
sebagian besar siswa di Indonesia beragama Islam, maka perlu adanya bimbingan
yang berlandaskan ajaran Islam. Ajaran Islam tidak bisa lepas terutama jika
guru bimbingan dan konseling di sekolah beragama Islam, dan siswa pun beragama
Islam. Kondisi di barat praktik agama justru membantu mempercepat penyelesaian
masalah, peran orang yang ahli dalam agama dapat membantu menyelesaikan
permasalahan masyarakat muslim dengan pendekatan agama. Pendekatan agama jauh
lebih kompleks dan lebih mendalam karena melibatkan nilai iman (tauhid),
sehingga individu menyadari posisinya sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi.
Bimbingan kelompok berbasis Islam yang dikembangkan dalam penelitian
ini disusun dengan berdasarkan pada dasar yang kokoh yaitu merujuk pada Al-qur’an dan hadits Nabi
SAW., sehingga memiliki spesifikasi yang berbeda dari bimbingan kelompok yang
sudah ada di sekolah. Bimbingan kelompok berbasis Islam yang terdiri atas 10
aspek yaitu: pengertian bimbingan kelompok berbasis Islami, peran konselor,
fungsi konselor, kualifikasi konselor, prosedur kerja bimbingan kelompok
berbasis Islami, anggota kelompok, sifat
topik, suasana interaksi, prinsip pelaksanaan, tahap-tahap pelaksanaan
bimbingan kelompok, dan komponen model yang terakhir adalah, Monitoring, evaluasi dan tindak lanjut.[5]
Selain itu Bimbingan kelompok
berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah siswa sangatlah dibutuhkan
dalam keseharian siswa, untuk melanjutkan dan mejalankan kehidupan yang lebih
efektif lagi.
MA Negeri 1 Lubuklinggau merupakan lembaga pendidikan menengah atas
bercirikan Islam yang memiliki kurikulum sama dengan kurikulum Sekolah Menengah
Atas (SMA) dengan kelebihan di bidang keagamaan (Islam). Jika di SMA mata pelajaran Pendidikan Agama hanya
2 jam pelajaran, maka di Madrasah Aliyah ada penambahan jam pelajaran dan
pembagian Materi Pelajaran Agama (Islam) yang lebih spesifik, yaitu : Al-Qur’an
dan Hadits, Fiqih, Aqidah Akhlaq, Bahasa Arab, dan Sejarah Kebudayaan Islam.
Dengan harapan lulusan MA Negeri 1 Lubuklinggau setara dengan tamatan SMA
sehingga dapat melanjutkan ke perguruan tinggi (negeri/swasta) dan memiliki
kelebihan di bidang agama (Islam) sehingga siap menjadi penggerak kehidupan
beragama di masyarakat. [6]
MA Negeri 1 yang berlatarkan Islam, sangatlah memperhatikan
nilai-nilai keagamaan seperti kesopanan seseorang siswa-siswi dari aspek fisik
maupun tutur sapa, tingkahlaku, dan lain-lainnya. Siswa-siswa kelas X itu
sangatlah rentan akan norma-norma spiritual tersebut, hal ini dikarenakan di usia mereka ini mereka
sudah cukup banyak melihat dan mengkomsumsi pengaruh dari luar, sehingga hal
tersebut di adopsi dan di
implementasikan di lingkungan sekolah. Apa lagi jika di lihat
dari aspek tutur katanya memang tidak semuanya yang berbicara dengan nada keras
namun hal ini yang menjadi salah satu tugas dan tangung jawab dari seseorang
konselor untuk bisa menyikapi sikap tersebut dan tentunya siswa-siswi tersebut
bisa lebih baik lagi.
Seorang konselor atau guru BK harus bisa menyikapi hal ini dengan
mengunakan salah satu dari sepuluh layanan yang mana dalam hal ini mengunakan
bimbingan kelompok berbasis Islam, agar
siswa bisa mengarahkan dirinya dengan baik untuk mencapai kearah akhlâkul
karimah, seseorang siswa-siswi yang belum bisa unutuk mencapai akhlâkul
karimah ini, tidak hanya ada di MA
Negeri 1 namun hampir di setiap lembaga pendidikan.
Berdasarkan uraian latar belakang
di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul proposal
: Pengaruh Bimbingan Kelompok
Berbasis Islam Dalam Pembentukan Akhlâkul Karimah Pada Siswa Kelas X MAN 1 Kota
Lubuklinggau.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan pokok-pokok
masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana
penerapan bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah
pada siswa kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau ?
2.
Bagaimana
bentuk akhlâk siswa setelah penerapan bimbingan kelompok berbasis Islam pada
siswa kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau ?
3.
Seberapa
besarkah pengaruh bimbingan kelompok
berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa
kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau?
C.
Tujuan
Penelitian
Ada beberapa hal yang ingin dicapai oleh penulis dalam penyusunan
proposal ini, di antaranya :
1. Untuk mengetahui
bagaimana penerapan bimbingan konseling berbasi Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa kelas X MAN 1 (Model) kota Lubuklinggau
2. Untuk mengetahui bagaimana bentuk akhlâk siswa
setelah penerapan bimbingan kelompok berbasis Islam pada siswa kelas X MAN 1
Kota Lubuklinggau
3. Mendapatkan informasi
seberapa besar pengaruh bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada
siswa kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau
D. Hipotesis
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah :
Ha : Ada pengaruh bimbingan kelompok
berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa kelas X MAN
I Kota Lubuklinggau
Ho:
Tidak ada pengaruh bimbingan kelompok
berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah pada siswa kelas X MAN
I Kota Lubuklinggau
E.
Manfaat
Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Bagi Sekolah
dan Siswa-siswi
Hasil
yang di peroleh dari penelitian ini diharapkan membawak dampak positif bagi
sekolah dan juga siswa-siswi, dan bisa memberiikan perubahan kepada akhlâk
siswa-siswi serta meberikan kesadaran kepada siswa-siswi bahwa sesunguhnya akhlâkul karimah sangatlah
dibutuhkan oleh setiap siswa-siswi.
2. Bagi Peneliti
Hasil
yang diperoleh dapat mengetahui kondisi sebenarnya tentang pengaruh Bimbingan
Kelompok Berbasis Islam Dalam Pembentukan Akhlâkul Karimah Pada siswa
kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau dan mendapatkan ilmu dan wawasan baru.
3. Bagi Keluarga
Hasil dari penelitian ini diharapkan memberiikan
dampak positif bagi keluarga sang klien,
dari berubahan yang di alami oleh sang klien.
F.
Tinjauan
Pustaka
Penelitian pengaruh bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan Akhlâkul
Karimah siswa di MAN 1 Kota Lubuklinggau ini merupakan salah satu masalah yang
cukup hangat yang tidak dapat begitu saja habis setelah dikupas. Ada
beberapa literature yang peneliti
jadikan pedoman serta perbandingan dalam melakukan penelitian ini.
Penelitian pertama, Yusuf Hasan Baharudin, Konseling Kelompok Berbasis Nilai-nilai Islam Untuk Meningkatkan
Kejujuran Siswa. Dalam penelitian tersebut Yusuf Hasan Baharudin
menyibulkan, Persaingan dalam segala bidang menjadi
pola hidup yang tidak dapat dihindarkan pada masa kini, kejujuran kemudian
menjadi barang antik yang sulit didapatkan. Setiap hari kita mendengar dan membaca berita
tentang penipuan, perampokan, pencurian, penggelapan, pemalsuan, korupsi,
manipulasi dan aksi-aksi lain yang bersumber dari tidak adanya kejujuran
seseorang terhadap dirinya sendiri. Sebab jika orang mau jujur terhadap didri
sendiri, bersedia mendengarkan suara hati nurani, pasti akan mengatakan bahwa
semua tindakan
diatas bertentangan dengan panggilan hati nurani yang tidak perna membenarkan aksi-aksi
tercela dan terkutuk itu. Karena suara hati nurani adalah hidayah Allah yang
dikaruniakan kepada manusia dan menyatu dengannya. Berkurangnya atau hilangnya
nilai kejujuran akan menimbulkan krisis kepercayaan yang pada gilirannya
melahirkan krisis multi dimensi, yang dapat menghancurkan sendi-sendi
kehidupan, baik pada tingkat kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun
sampai pada tingkat kehidupan berbangsa dan bernegara, jika manusia sudah
meninggalkan apa yang disebut dengan “kejujuran”.
Salah satu anugerah
terbaik yang diberikan Islam kepada umat manusia adalah ajaran-ajaran dan
konsep-konsep tentang akhlâk mulia dan perilaku yang baik. Islam melalui wahyu memberiikan
penguatan terhadap nilai-nilai luhur yang dimiliki manusia sebagai fithrah,
agar manusia senantiasa berada dalam kesadaran yang benar. Kesadaran yang benar
tersebut akan menimbulkan perilaku yang benar, dan selanjutnya akan membimbing
manusia untuk memiliki budaya perilaku (moral atau akhlâk) yang benar.
Penelitian dilakukan untuk mengukur efektifitas penggunaan nilai-nilai keislaman
sebagai materi dalam layanan konseling kelompok di sekolah untuk meningkatkan
kejujuran siswa SMP-IT Masjid Syuhada Yogyakarta.
Metode yang digunakan
adalah eksperimen one group pre and
posttest design, melibatkan 8 siswa SMP-IT Masjid Syuhada. Penentuan subjek
dipilih dari skala kejujuran terendah dan berdasarkan diskusi peneliti dengan
guru BK dan wali kelas. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala kejujuran
siswa ( ri= 0,367 – 0,729 α= 0,810 ),
angket, observasi, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan dalam menggunakan uji wilcoxon
signed ranks test. Hasil uji wilcoxon signed ranks test menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan skor tingkat kejujuran subjek penelitian atau siswa antara
sebelum dengan sesudah pemberian layanan konseling kelompok berbasis
nilai-nilai Islam (manipulasi), dengan Z = -2,232 dan p-value = 0,026 (p-values
< 0,050. Nuansa praktis nilai-nilai Islam tersebut memudahkan subjek
penelitian dalam memahami dan mempraktekkan ajaran tersebut dalam kehidupan
belajar, pergaulan, hubungan dengan orang tua dan umumnya dalam kehidupan
sehari-hari. Penelitian ini berkesimpulan bahwa konseling kelompok berbasis
nilai-nilai Islam dapat meningkatkan kejujuran siswa, sehingga dapat digunakan
sebagai pengembangan layanan konseling di sekolah terhadap siswa yang mengalami
tingkat kejujuran rendah.[7]
Penelitian kedua, yang dilakukan oleh Sardjuki, Pengaruh Keteladanan Orang Tua dan Guru Terhadap Pembentukan Akhlâk
Pada Siswa Kelas VIII SMP PGRI. Dalam penelitian tersebut Sardjuki menyimpulkan,
Keteladanan orang tua, guru pada siswa. Penelitian ini merupakan
upaya penyerasian hubungan dan korelasi antara pemberian motivasi dari orang
tua dan guru terhadap peningkatan pengembangan akhlâk siswa baik di rumah
maupun di sekolah. Berdasarkan
hasil temuan pengamatan dan angket dapat disimpulkan,bahwa peranan dan motivasi
orang dapat mempengaruhi peningkatan akhlâk bagi anak dirumah. Hasil temuan dan pengamatan guru BK dapat
disimpulkan bahwa peranan dan motivasi guru dapat meningkatkan akhlâk siswa
disekolah. Sikap dan perilaku memiliki hubungan atau korelasi dengan
peningkatan akhlâk anak dirumah dan di sekolah. Rasulullah SAW telah mengajari
kita akan makna hidup yang sebenarnya serta membawa kita menuju jalan hikmah
yang diridhoi Allah SWT.
Beliau memberiikan ilmu yang belum
kita ketahui dan mewariskan Islam sebagai agama yang patut diagungkan. Beliau
pulalah yang membuka tirai hati dengan
keikhlasan dan kelembutan tutur sapa-Nya. Rasululah merupakan manusia sempurna
yang tidak mempunyai cacat sedikitpun. Semua apa yang beliau aplikasikan selalu
sesuai dengan Iradat Allah SWT, sehingga julukan Al-Amien yang beliau sandang
tidak patut untuk dipermasalahkan. Gerak gerik Rasulullah adalah hikmah dan
tutur sapanya adalah nasehat. Kita selaku umatnya herus menerjemahkan apa yang
telah telah beliau lakukan sekaligus mengimplementasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Begitupun dalam berkeluarga, kehidupan yang penuh cinta dan
keharmonisan yang dihiasi kasih sayang bisa beliau gapai. Hal ini membuktikan
bahwa beliau berhasil membina dan memimpin rumah tangga yang beliau hadapi.
Beliau selalu mengedepankan keadilan dan kejujuran, transformasi ilmu dari
Allah SWT dikerjakan dengan sebenarnya. Ini bukan karena beliau menjadi kekasih
Allah SWT, tetapi lebih menginginkan apa yang beliau praktekkan nantinya bisa
dicontoh oleh
umatnya.[8]
Penelitian ketiga, yang dilakukan Anita Dwi Astuti, Model
Layanan BK Kelompok Teknik Permainan (Games) Untuk Meningkatkan Komunikasi
Interpersonal Siswa. Dalam penelitian tersebut Anita Dwi Astuti
menyimpulkan, Komunikasi adalah peristiwa sosial, peristiwa yang terjadi ketika
manusia berinteraksi dengan orang lain. Setiap melakukan komunikasi bukan hanya
menyampaikan isi pesan tetapi juga menentukan tingkat hubungan interpersonal.
Berbagai
aneka masalah dalam komunikasi muncul bukan karena perasaan yang dialami oleh
seseorang, melainkan seseorang tersebut gagal mengkomunikasikannya secara
efektif. Kesulitan mengkomunikasikan perasaan secara efektif, dapat dialami
oleh
Berdasarkan
hasil angket need assesment yang diberikan kepada 50 siswa secara acak
dari 95 siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah I Melati Sleman Yogyakarta, diperoleh
hasil bahwa sebanyak 3 siswa (6%) memiliki kemampuan berkomunikasi tinggi,
sebanyak 16 siswa (32%) memiliki kemampuan berkomunikasi sedang dan sisanya
sebanyak 31 siswa (62%) memiliki kemampuan berkomunikasi cukup. Berdasarkan uraian diatas menunjukkan masih terdapat siswa yang
memiliki keterampilan komunikasi interpersonal cukup yang ditandai merasa gugup
apabila berbicara dengan orang yang belum dikenal, merasa gemetaran bila
berhadapan dengan orang banyak, tidak berani mengemukakan pendapat di depan
umum, dan takut mendapatkan kritikan.
Hasil studi pendahuluan
pada siswa VIII SMP Muhamadiyah I Melati Yogyakarta ditemukan sebanyak 62%
siswa memiliki keteramlilan komunikasi interpersonal cukup. Sebagai upaya
meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa. Guru BK memerlukan
adanya model layanan bimbingan kelompok teknik pemainan (games). Penelitian ini
betujuan untuk mengembangkan model
layanan bimbingan kelompok teknik permainan (games) yang efektif untuk
meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa yang sesuai dengan
kebutuhan dan visibilitas di SMP Muhammadiyah I Melati Sleman Yogyakarta. Model
peniliti ini adalah research and
developmert dengan pendekatan mixed kualitatif
dan kuantitatif. Hasil uji coba terbatas dengan Independent sample T-Test dihitung perhitungan nilai sebesar 4,734
dan mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,00 (p<0,05) sehingga dinyatakan
ada pengaruh yang signifikan (efektif) dari pengunaan teknik permainan (games)
dalam meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa.[9]
Dari beberapa tinjuan perpustakaan diatas, belum ada yang sama dengan
penelitian yang peneliti teliti oleh karena itu, peneliti akan meneliti
mengenai, ‘’Pengaruh Bimbimgan Kelompok Berbasis Islam Dalam Pembentukan Akhlâkul Karimah Pada
siswa Kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau’’
G.
Kerangka Teoritik
Pendidikan
pada hakikatnya merupakan pembentukan kepribadian manusia, memanusiakan
manusia dalam arti yang sesungguhnya. Karena itu, pendidikan mestilah mengenai pengembangan seluruh
potensi manusia baik jasmani maupun rohani. Pendidikan memiliki potensi untuk
membentuk karakter pribadi seseorang. Karena pada dasarnya, perilaku seseorang
merupakan produk dari akal pikiran dan pengetahuan-nya. Seseorang akan melakukan suatu
perbuatan berdasarkan apa yang diketahuinya, atau paling tidak akan meniru-niru
atau melakukan sesuatu yang menyerupai apa yang diperolehnya dengan inderanya.
Dengan demikian, pendidikan dapat mencetak seseorang menjadi sholeh secara
individu dan sholeh secara sosial, bersikap terbuka dan menerima keragaman
realitas budaya, etnis, dan keragaman pemahaman agama
dan pemahaman mengenai sifat dan juga sikap yang sopan . Sebagaimana yang
dijelaskan dalam firman Allah :
7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
artinya “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung ‘’ ( QS. Al-Qalam [68]: 4 ).[10]
Disamping
itu, pendidikan juga dapat mencetak pribadi-pribadi yang ekslusif – tertutup
dan tidak menerima keragaman realitas, mengklaim kebenaran hanya
pada apa yang dianutnya atau kelompoknya, sehingga tidak jarang konflik dan
tindak kekerasan terjadi.
Guru Bimbingan Konseling (BK), umumnya sangatlah
berperan penting untuk mendidik
siswa-siswi agar memiliki akhlâk dan kepribadian yang baik dan dapat membawa
nama harum madrasah pada bidang akademik, maupun non akademik. Kegiatan ini harus mampu memberiikan hal-hal positif kepada peserta
didik, membantu meringankan beban, menemukan alternatif pemecahan masalah,
mendorong semangat dan memberiikan penguatan serta ketenangan kepada peserta
didik secara tepat. Maka pelayanan bimbingannya menyentuh ranah afektif yaitu
membantu peserta didik untuk mengembangkan potensi, tanggung jawab, hubungan
interpersonal, motivasi, komitmen, daya juang serta pengembangan karir serta
peningkatan siswa atau perserta didik dalam segi akhlâk atau nilai keagamaan.[11]
Profesi bimbingan
konseling merupakan keahlian pelayanan yang bersifat psikopedagogis dalam
bingkai budaya artinya bahwa pelayanan yang diberikan harus mengacu pada upaya
pendidikan dengan memperhatikan aspek psikologis dan unsur budaya yang
menyertainya. Tentu saja aspek budaya disesuaikan dengan kondisi daerah sekolah
tersebut. Kebiasaan yang terjadi pada sekolah-sekolah di daerah tidak bisa
dibuat pola yang sama dengan sekolah yang ada di kota.
Misalnya dari sisi
kebiasaan, sopan santun, ataupun kemampuannya. Dalam Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun
Undang-undang tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru bimbingan dan
konseling ini disebut sebagai konselor pendidikan. Dalam menjalankan tugasnya
seseorang konselor dapat melakukan tugasnya dengan beberapa alternativ yang
telah ada seperti mencakup beberapa
layanan antara lain layanan orientasi (pengenalan lingkungan sekolah yang
baru), layanan informasi (berbagai informasi untuk menambah wawasan dalam
merencanakan masa depan), layanan penempatan (membantu siswa menyalurkan bakat,
minat atau kelanjutan studi yang dipilih melalui hasil belajar serta hasil
psikotes sebagai bahan pertimbangan), layanan penguasaan konten (membantu siswa
mengembangkan diri kerkaitan dengan sikap dan kebiasaan belajar, materi belajar
yang cocok dengan kemampuannya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar
lainnya, layanan konseling individu/kelompok (membantu mengatasi masalah baik
yang disadari maupun tidak disadari oleh siswa secara individu atau kelompok)
serta layanan bimbingan kelompok. Meskipun Pelaksanaan layanan konseling di
sekolah sangat rendah namun hal ini
harus ditingkatkan dan dikembangkan seoptimal mungkin.[12]
Layanan bimbingan
kelompok berbasis Islam ini membentuk Konsep diri positif, akan mengembangkan
sifat kepercayaan diri, harga diri dan kemampuan untuk melihat dirinya secara
realistis, sehingga akan menumbuhkan penyesuaian sosial yang baik.[13]
Dalam bimbingan kelompok
berbasis Islam ini, langkah-langkah yang dilakukan diantaranya yakni, membaca
do’a sebelum memulai kegiatan, dan dalam menyelesaikan masalah selalu
mengunakan atau menyelipkan dalil-dalil serta hadist yang bisa mengarahkan
kehidupan siswa untuk lebih baik lagi.
Selain itu juga, melalui
bimbingan kelompok seseorang guru bimbingan konseling bertugas memperhatikan
pembulatan dan perkembangan (perkembangan sikap dan prilaku) siswa serta
mengetahui perbedaan pada siswa, hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah No
28 dan 29 tahun 1990, disebutkan bimbingan merupakan bantuan yang diberikan
kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadinya, mengenal lingkungan dan
merencanakan masa depan. Dalam efektifitas pelaksanaan bimbingan kelompok
sering masih belum jelas, hal ini terbukti dengan adanya siswa yang belum
mempunyai kesadaran untuk memanfaatkan fungsi bimbingan kelompok. Namun, disisi
lain ada juga siswa yang telah menyadari fungsi bimbingan kelompok dan mau
memanfaatkannya. Serta sikap siswa yang mau berkonsultasi didorong adannya
kesedian membicarakan suatu masalah dengan harapan solusi yang memberiikan
kenyamanan bagi dirinya. Motivasi siswa untuk melakukan bimbingan sangat
dipengaruhi oleh perpesinya, siswa yang mempunyai persepsi positif tidak akan
segan untuk berkonsultasi mau mendengarkan dan menerima saran dari konselor.
Apabila siswa telah mengetahui dengan jelas bahwa sebenarnya yang menjadi insan
yang berguna dan sempurna.[14]
Di dalam penelitian
pengaruh bimbingan kelompok berbasis Islam dalam pembentukan akhlâkul karimah
pada kelas X MAN 1 Kota Lubuklinggau ini peneliti mengunakan teori Gestalt yang dikemukakan oleh seseorang
ilmuan Frederick Perls, yang mana teori ini ‘’ memandang bahwa manusia itu
dapat berubah, salah satunya yakni dengan prilaku yang diarahkan, percaya
dengan diri sendiri serta bertangung jawab.’’[15]
Senada dengan yang
diungkapkan oleh Hays dan Erford, terapi
Gestalt membantu klien untuk mengonstruksikan makna dan maksud melalui
mempertinggi kesadaran dan persepsi mereka tentang apa yang sedang terjadi saat
ini. Perubahan dianggap sebagai suatu keadaan yang kekal, dan konselor yang
mengunakan pendekatan Gestalt sering kali berusaha untuk mendeteksi
tantangan-tantangan lingkungan, interpersonal, dan intrapersonal dan
penghalang-penghalang untuk perubahan, sehingga membantu klien untuk
beradaptasi dan mengakomodasi lingkungan internal dan eksternal. Konselor
membantu klien menyelesikan urusan yang belum selesai yang mencegah kontak dan
adaptasi yang sehat dengan lingkungan, dan memenuhi kebutuhan melalui
pengembangan batas-batas relasional yang jelas dan fleksibel. Salah satu
keunggulan pendekatan Gestalt adalah pentingnya hubungan terapeutik dan
filosofi yang mendasari bahwa klien seharusnya didekati secara terbuka dan
tampa prakonsepsi untuk membantu memahami persepsi-persepsi saat ini.[16]
Dan dalam hal ini teori
Gestalt sangatlah tepat digunakan dalam
penelitian ini karena pada dasarnya seseorang siswa-siswi itu mempunyai
kepercayaan diri sendiri dan mempunyai tangung jawab yang kuat serta mengikuti
dan tidak menutup kemungkinan siswa juga akan medengarkan dan mengikuti arahan
dari seseorang guru atau konselor untuk menjadi siswa yang lebih baik dan
manusia yang seutuhnya.
|
Bertanggung
jawab
|
|
Percaya dengan diri
sendri
|
Bagan Teori Gestal
H.
Sistematika
Penulisan
Pembahasan dalam skripsi ini tersusun dengan sistematika
sebagai berikut:
BAB I Merupakan pendahuluan, yang
terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka
teoritik, dan sistematika pembahasan.
BAB II
Adalah landasan teori, yang
terdiri dari kajian tentang pengertian pendidikan, Islam, pendidikan Islam,
bimbingan konseling, bimbingan kelompok, bimbingan kelompok berbasis Islam, dan
akhlâkul karimah.
BAB III Metode penelitian berisi
tentang, jenis penelitian, populasi dan sampel, tempat
dan waktu penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data
BAB IV Berisi tentang gambaran umum, subyek penelitian,
serta hasil dan pembahasan hasil penelitian
BAB V Adalah bab penutup yang meliputi:
kesimpulan penulis dari hasil penelitian dan saran yang dipandang perlu.
No comments:
Post a Comment